Sunday, April 18, 2010

Artikel KIR tentang Sains

"Anak dan Tantangan Sains"

petualangan sainsMasa kanak-kanak merupakan masa penuh petualangan. Di masa ini anak-anak memiliki keinginan penuh untuk mengeksplorasi lingkungannya. Mereka memandang dunianya dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka ada di dalam tahap perkembangan dimana mereka telah siap menghadapi dunia luar dan siap untuk berkembang menjadi apapun.

Di masa kanak-kanak, seorang individu siap untuk belajar kemampuan baru, siap untuk mengelaborasi pengetahuan mereka dan menggunakannya untuk menghadapi berbagai permasalahan yang ada di dunia mereka sehari-hari. Mereka bisa memandang dunia lebih jauh dari apa yang mereka hadapi dengan daya imajinasinya yang hebat. Mereka siap membangun dunia bila kita mampu untuk memahami keinginan belajar mereka dan memfasilitasi perkembangan kreativitas mereka yang tak terbatas dan semangat mereka yang luar biasa dalam menghadapi berbagai masalah yang mungkin bisa membuat orang dewasa merasa pusing.

Masalah, dianggap oleh seorang anak sebagai cara untuk membuktikan kemampuan mereka. Sebuah tantangan yang diajukan dunia kepada mereka. Lalu, mereka mencoba untuk memberikan tenaga dan pikiran mereka, dalam fokus yang terpusat, hingga mereka mampu membuat suatu karya cipta yang orisinal, asli, dan jauh dari apa yang ada dalam pikiran orang dewasa yang telah mampat.

Di masa kanak-kanak, seorang manusia mulai belajar menjadi individu yang mandiri. Mereka belajar mengenai tanggung jawab mereka terhadap lingkungan yang mereka hadapi. Mereka tahu dan mereka juga merasakan dan ikut memiliki ruang hidup dimana mereka banyak bereksplorasi.

Mereka memandang dunia sebagai wahana petualangan tanpa batas, dengan garis khatulistiwa sebagai awal dari cakrawala perkembangan berpikir mereka. Dunia, mereka hadapi seperti lawan main dalam sebuah permainan. Mereka terus gembira, mudah merasa ceria, dan memandang setiap perubahan bagaikan sebuah kejutan yang membuat mereka selalu merasa riang dan senang.

Mereka bisa bermain dengan alat sederhana, secakap baiknya daya tangkap mereka dalam bermain dengan alat elektronik yang tercanggih sekalipun. Daya dan kemampuan bermain seorang anak sangatlah menakjubkan. Dan permainan bukanlah suatu hal yang buruk. Dengan bermain, seorang anak banyak sekali belajar. Mereka yang belajar melalui cara ini, memiliki wacana berpikir yang lebih luas, ruang pribadi yang membuatnya mudah berbagi dengan orang lain, dan kebiasaan bersikap yang positif.

Lewat permainan, Thomas Alva Edison yang keluar dari sekolahnya setelah belajar disana selama waktu kurang dari satu bulan, mampu mengambil esensi ilmiah dari dunia sains dan melakukan berbagai percobaan ilmiah yang menarik. Dan Edison hingga akhir hidupnya terus merasakan kebahagiaannya sebagai seorang anak, dan tanpa henti membuat inovasi hingga tak kurang dari dua ratus dua puluh sekian karya ilmiah yang dihasilkannya dipatenkan. Dari mulai bohlam lampu hingga pembangkit tenaga listrik dan rangkaian set elektronik yang membuat lampu bisa menyala dari arus sungai yang dalam.

Mengapa generasi muda bangsa kita tak bisa mencontohnya?
Apakah pertanyaan tersebut harus kita tanyakan pada orang lain, ataukah pada diri kita sendiri?

Jawabannya tentu terletak pada setiap pribadi. Kita tidak bisa menudingkan jari dan menuduh. Apa yang kita pandang sebagai solusi, pasti terletak pada masalahnya itu sendiri. Mungkin kita telah salah dalam memahami anak-anak dan dunia imajinasi mereka yang penuh kebebasan. Mungkin pula kita terlalu dibebani oleh berbagai teori ilmiah yang sebenarnya bersifat lentur dan bisa diimplementasikan, asal saja kita tahu caranya.

Kelenturan kita dalam bersikap dan memahami persoalan ini tentu harus menyentuh berbagai segi dari masalah yang kita hadapi, dan memahaminya dalam ruang lingkupnya dimana masalah tersebut muncul. Bila ada kasus dalam bidang pendidikan, maka masalah tersebut tentu tak bisa dituding hanya sebagai masalah pendidikan saja. ada juga proses pengajaran yang tak hanya dilakukan oleh guru, tapi berkesinambungan, juga di rumah dan banyak juga di masyarakat.

Dukungan orangtua tidak sepenuhnya bisa digantikan dengan dukungan guru ataupun pihak masyarakat. Orangtua, sebagai sekolah pertama anak, adalah tempat dimana anak mengembalikan semua yang sudah ia pelajari untuk ia refleksikan kembali. Pekerjaan rumah adalah salah satu wahana komunikasi antara sekolah dan anak di rumah. Apakah seorang anak bisa melakukan pekerjaan rumahnya dengan baik, dengan bantuan orangtua dan orang dewasa lainnya di sekitarnya, ataukah kita mendapatkan refleksi lain dari hasil belajar anak yang bisa menjadi pertanda suatu kasus?

Bila orangtua dapat memberikan perhatian yang cukup, dukungan yang baik, dan bisa menyediakan berbagai fasilitas belajar yang kondusif untuk seorang anak, tentu ia akan bisa memahami keinginan yang besar dari orangtuanya itu, dan hidup dengan keinginan untuk membahagiakan orang lain. Namun bila tidak, dunia apa yang mungkin tercipta untuknya?

Seorang anak dari keluarga miskin mampu menembus sendiri alam pemikirannya, dan dengan pengetahuannya yang didapatkannya dengan terbatas hingga bangku STM, mampu menciptakan sistem sensor radar elektronik untuk kereta api dan jalan raya demi mencegah terjadinya kecelakaan kereta dan lalu lintas, yang menghantarkannya pada penghargaan dari LIPI. Ini adalah bukti bahwa dalam keterbatasan masih bisa dimunculkan daya cipta yang tinggi. Kita pun sering mendengar mengenai siswa kurang mampu yang meraih penghargaan sebagai siswa teladan di sekolahnya. Maka, apalagi yang kita ragukan?

Indonesia telah melahirkan Stephanus George Saa dari tanah Papua yang penuh keterbatasan, yang mampu menembus ruang ilmiah fisika internasional dan menjadi juaranya. Maka apalagikah yang menjadi keraguan kita? Tanah air kita kaya akan benih-benih berbakat, potensi emas yang belum digali. Intan berlian ilmu, benih perkembangan sains yang belum diolah.

Banyak latihan yang diberikan oleh para guru setiap harinya untuk membuat potensi ilmiah setiap anak tergali dan mewujud menjadi hasil prestasi nyata. Daya pikir mereka banyak dilatih dengan lembar-lembar latihan kerja siswa, berbagai ulangan harian, serta ujian-ujian yang harus dijalani dalam waktu tertentu. Namun, apakah itu semua adalah langkah yang tepat dalam mengembangkan potensi berpikir mereka?

Sejauh apakah kefektifannya terhadap proses belajar itu sendiri? Ataukah itu menggambarkan kekurangadekwatan dari pihak pendidik untuk mengobservasi siswanya per individu dan menangkap kekhasan mereka? Kapankah seorang anak benar-benar belajar? Apakah sekolah benar-benar menjadi tempat mereka belajar, ataukah telah menjadi penjara harian yang membuat mereka dihukum setiap hari untuk mengerjakan berbagai tugas dan PR?

Iklim kompetisi yang diciptakan dengan ujian-ujian dan pemberian ranking pun menjadi bahan pemikiran kita. Apakah hal tersebut baik untuk perkembangan emosional anak, dan untuk perkembangan kepribadiannya? Ataukah hal tersebut dirasakan sebagai hal yang tak menyenangkan bagi setiap anak, yang menimbulkan persaingan yang tidak sehat bahkan ada timbul persahabatan yang kompetitif? Padahal, berteman dan menjalin keakraban dan kerjasama antara anak, adalah hal yang penting yang berkembang selama anak tersebut tumbuh dan belajar di lingkungan sekolah yang dihuni oleh ratusan hingga ribuan anak.

Kita ingin agar setiap siswa merasa senang dalam belajar. Penting untuk menumbuhkan kecintaan mereka terhadap ilmu. Bahwa dengan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka cari sendiri dan mereka himpun secara mandiri, mereka akan mampu membentuk sendiri masa depan yang mereka inginkan.

Bahwa pengetahuan ada dalam setiap buku yang mereka pelajari, dan telah menjadi kesukaan mereka untuk belajar sebanyak-banyaknya dan mengetahui seluas-luasnya, dengan tanpa beban. Dan dunia terbuka luas untuk mereka eksplorasi lewat buku, internet, koran dan media informasi lain.

Selain itu, kita juga memiliki satu tantangan lain, yaitu bahwa setiap hari anak-anak belajar di sekolah haruslah bukan suatu saat yang membosankan. Bagaimana kita menghindarkan pola belajar dari ceramah yang diberikan satu arah oleh para guru dengan siswa yang menahan rasa bosan dan kantuk. Semua ini adalah suatu proses yang menantang yang harus dilalui dengan cara yang menggembirakan. Tantangan inilah yang harus dijawab oleh para guru dan kalangan pendidik serta para pemerhati dunia pendidikan.

Kita menginginkan agar setiap mimpi dan khayalan seorang anak bisa diwujudkannya sendiri dalam berbagai inovasi yang akan membantu lebih banyak orang. Bahwa bermimpi itu baik, dan hanya tinggal dicarikan jalannya secara ilmiah. Dan mimpi kita adalah untuk menjadikan belajar sebagai sebuah petualangan bermain ilmiah yang menggembirakan bisa terwujud dan dinikmati oleh setiap anak.

Marilah kita bekerjasama untuk mewujudkan satu dunia belajar yang lebih baik untuk anak-anak di Indonesia ini. Agar negeri kita tercinta ini bisa menjadi “negeri para pembelajar” yang menyukai berbagai kerumitan ilmu untuk diuraikan menjadi pengetahuan sederhana dan tepat guna yang mudah dicerna untuk anak-anak. Agar dunia tak lagi menjadi sebuah “wahana keajaiban” semata, yang membuat anak berpikir sesuatu ada atau berubah karena lafal sihir tertentu, yang tak bisa dimengerti anak, tapi menjadi sebuah “laboratorium kehidupan”, dimana setiap hal bisa menjadi keraguan ilmiah yang menantang untuk dibuktikan kembali.

Hingga berbagai letupan ide fantastis yang dimiliki setiap anak tak kan tenggelam oleh kesibukan orangtuanya tetapi terwujud dalam berbagai kreasi dan inovasi yang orisinal dan mutakhir. Dan anak dengan berbagai potensi terpendam mereka, akan berkembang menjadi penjawab dari berbagai tantangan yang akan muncul di masa depan dan menjadi para pembaharu yang terbaik di berbagai bidang kehidupan. Dengan begitu, setiap anak bisa berkembang menjadi solusi terbaik untuk berbagai permasalahan bangsa dan mampu mengembangkan berbagai jawaban untuk mengatasi persoalan yang timbul di sekitarnya. Kembangkan bakat anak mulai hari ini.

Memangnya Sains Itu Serius ?
Selasa, 1 April, 2008 oleh Muzi Marpaung
Kompas, 01 November 2004

SEORANG anak kelas VI sekolah dasar memasang botol plastik yang telah dibelah dua di atas mobil-mobilan Tamiya tanpa bodi. Di dalam botol ia masukkan balon berisi air, sambil tangannya terus menjepit leher balon agar air tidak tumpah sebelum waktunya. Kemudian jepitan ia lepaskan. Air mengucur deras ke belakang, dan mobil-mobilan meluncur ke depan. Anak itu gembira. Betul-betul gembira. Beberapa temannya yang menyaksikan bertepuk tangan.

EKSPERIMENNYA itu kemudian diikutkan pada suatu lomba. Sang juri bertanya, “Percobaanmu itu apa gunanya?”

Sedikit tergagap si anak menjawab, “Ini bukti air sebagai sumber energi.”

Juri mengangguk-angguk. Tak ada pertanyaan lagi sesudah itu. Habis. Tak ada tawa. Beda sungguh dengan ketika pertama kali hasil eksperimen itu diperagakan di hadapan teman-temannya. Entah karena jawaban tersebut, entah karena hasil eksperimen itu kalah menarik dibandingkan dengan eksperimen karya peserta lainnya, walhasil anak itu tidak menang.

Akan tetapi bukan itu yang penting. Saya bayangkan kalau saya juri, tak akan saya tanya manfaatnya. Saya akan bertanya bagaimana ceritanya ia mendapat ide seperti itu? Bagaimana perasaannya menemukan mainan sederhana itu? Bukan kebetulan, saya tahu kisah bagaimana eksperimen itu dimulai. Anak itu terinspirasi oleh eksperimen temannya yang gagal meluncurkan mobil dengan udara. Digabung dengan hasil main-mainnya dengan balon berisi air, jadilah mobil bertenaga air. Boleh jadi yang seperti itu pernah dilakukan di belahan bumi yang lain. Bukan sesuatu yang baru. Akan tetapi, bagi si anak, tetap saja baru.

Menurut hemat saya, jauh lebih berharga apabila juri mengeksplorasi kegembiraan anak-anak saat menceritakan kembali perjalanan eksperimennya ketimbang menghadangnya dengan pertanyaan “apa manfaatnya?” Biarlah binar-binar memancar dari mata mereka karena itu akan bermetamorfosis menjadi antusiasme. Antusiasme itu akan menjadi energi untuk kembali mengerjakan eksperimen sains yang asyik. Pertanyaan “apa manfaatnya” hanya akan menjadi pagar khayalan yang menghadang kreativitas mereka di sana-sini.

Saya jadi teringat kisah Richard P Feynman (1918-1988) dari Amerika Serikat yang merupakan salah seorang fisikawan paling berpengaruh di abad ke-20. Ia peraih Nobel Fisika tahun 1965. Suatu ketika Feynman merasa mulai sebal dengan fisika. Ia tahu sebabnya. Tidak lain karena ia mulai serius. Akhirnya ia putuskan untuk kembali seperti dulu: bermain dengan fisika. Ia menulis di bukunya, “aku melakukan apa saja yang kusukai; apa yang kukerjakan tak mesti penting untuk perkembangan fisika nuklir, tapi asal menarik dan menyenangkan untuk mainanku”.

Suatu ketika Feynman bermain lempar piring di kafetaria kampusnya. Waktu piring itu melayang di udara, ia melihat bandul merah di atas piring itu berputar-putar, lebih cepat daripada perputaran piring. Dengan penuh semangat ia mulai menghitung gerakan rotasi piring itu. Hasilnya ia ceritakan kepada koleganya, fisikawan terkenal Hans Bethe (peraih Nobel Fisika tahun 1967).

Bethe bilang, “Feynman, itu memang menarik, tetapi apa pentingnya? Mengapa kau kerjakan?”

Memang tidak ada pentingnya. Feynman mengerjakannya cuma karena senang. Komentar Bethe tidak memengaruhinya karena ia sudah menetapkan hati untuk menikmati fisika. Ujungnya, main-mainnya itu mengantarkan ia kepada perhitungan-perhitungan gerakan elektron yang rumit, yang membuatnya memperoleh Nobel Fisika. Ya, itulah. Semestinya sains didekati dengan semangat bermain.

Rupanya tidak mudah melepaskan sains dari kata “serius”. Di dalam lomba percobaan sains yang lain, seorang anak SD memeragakan kincir air buatannya. Kincir air itu bagus dan sederhana. Ia kemudian bercerita mengenai manfaat dari kincirnya itu, yang dikatakannya dapat memperbaiki kesejahteraan petani. Di sinilah soalnya. Paparan itu tampak membanggakan, tetapi saya malah jatuh iba. Anak sekecil itu sudah memikirkan soal yang serupa itu. Mungkin ini dramatisasi, tetapi sempat terpikir: berat benar jadi anak Indonesia! Ingin saya bilang, “Ayo kita keluar bermain-main dengan kincir airmu itu. Biar orang dewasa saja yang memikirkan kesejahteraan petani.”

Saya tidak tahu adakah soal kesejahteraan petani itu idenya sendiri atau “pesanan” orangtua atau gurunya. Apa pun, menurut pendapat saya, hal ini menjerembabkan sains menjadi serius. Eksperimen sains anak-anak kembali “menghamba” untuk menjadi jawaban atas pertanyaan “apa manfaatnya”.
Penyakit serius ini sempat menjangkit pula di klub sains yang saya asuh. Beberapa anak minta saran bagaimana cara menjawab pertanyaan, “apa manfaat percobaanmu?”

Saya balik tanya, “Menurutmu apa?”

“Enggak tahu.”

“Ya sudah. Jawab saja belum tahu. Atau bilang saja, percobaan ini membuat saya lebih memahami sains. Memang kenyataannya begitu kan?”

“Kalau ditanya manfaat sehari-hari?”

“Kalau tidak tahu, bilang saja tidak tahu. Memangnya harus selalu ada manfaat sehari-harinya?”

“Ya, kalau jawabannya begitu, bisa kalah dong!”

“Tidak mengapa. Lebih penting bagimu menikmati dan memahami sains daripada memenangi lomba. Jauh lebih penting bagimu untuk bergembira dengan sains daripada mencemaskan akan juara atau tidak.”

Anak-anak, bahkan juga kita orang dewasa, patut diberitahukan bahwa kemenangan yang sesungguhnya ialah apabila kita semakin memahami alam. Jadi, entah di rumah entah di sekolah atau di mana saja, biarlah anak-anak bergembira dengan sains. Biarlah mereka menemukan dunia yang asyik melalui kegiatan-kegiatan yang tampak tak berguna semacam mengamati semut, mencampur soda kue dan cuka di dapur rumah Anda, atau meniup gelembung sabun dari sisa sabun mandinya. Dampingi saja mereka bermain dan bergembiralah bersama. Atau jangan-jangan Anda sendiri masih memandang sains kelewat serius?

A Muzi Marpaung Pengasuh Klub Sains Ilma

No comments:

Post a Comment